Pena Khatulistiwa
Menggores Sejarah Peradapan

Legenda Kapal TNI AL Pemburu Kapal Selam

 

Penakhatulistiwa.com – Meski bukan kelas destroyer, kodrat kapal perang ini adalah sebagai pemburu dan penghancur kapal selam, namun karena fungsi utamanya tak dapat berjalan sebagaimana mestinya, sosok kapal perang ini di Indonesia kemudian beralih peran sebagai kapal patroli.

Related Posts
1 of 482

Yang dimaksud disini adalah Kronshtadt Class Submarine Chaser, jenis kapal perang yang tersisa sebagai ‘buah’ dari kampanye Operasi Trikora. Sejatinya Kronshtadt Class adalah label yang disematkan oleh NATO, sementara negara pembuat, yakni Uni Soviet menyebutnya sebagai Project 122bis.

Uni Soviet benar-benar bekerja ekstra cepat dalam mewujudkan Kronshtadt Class, pasalnya saat Perang Dunia II berakhir di 1945, gelombang perdana kapal perang ini sudah mulai diproduksi, yaitu dibangun di fasilitas galangan Zelenodolsk pada periode 1945-1947.

Pada periode tersebut, 227 unit Kronshtadt Class berhasil dibuat. Sebanyak 175 unit dibangun khusus untuk memenuhi kebutuhan armada AL Uni Soviet, dan sisanya digadang Soviet untuk dipasarkan ke negara-negara Blok Timur dan sekutu Soviet di seluruh dunia. Produksi Kronshtadt Class sendiri baru berakhir pada 1955.

Pada awal berkecamuknya Perang Dingin, Kronshtadt Class dipersiapkan Soviet sebagai arsenal pertahanan di Armada Laut Baltik, Laut Hitam, Laut Kaspia, Laut Artik, dan Pasifik. Tugas utamanya adalah untuk misi anti kapal selam di pesisir wilayah Soviet. Karena perannya sebagai pertahanan pantai, Kronshtadt Class juga diserahkan kepada Soviet Border Guard, dan sejak itu kapal ini berperan sebagai kapal patroli perbatasan.

Karena teknologi yang telah usang, AL Soviet secara bertahap mulai memensiunkan Kronshtadt Class pada rentang 1958 – 1970, 13 unit kapal diantaranya masih beroperasi hingga tahun 1990-an sebagai sarana pelatihan.

Untuk pangsa ekspor, tercatat penggunanya adalah Cina yang kemudian memproduksi sendiri secara lisensi, kemudian ada Albania, Bulgaria, Kuba, Polandia, Rumania, dan Indonesia. Nah, Indonesia sendiri menerima Kronshtadt Class produksi tahun 1953, MPK-424 (1953), MPK-426 (1953), MPK-427 (1953), MPK-429 (1953), yang kesemuanya diterima ALRI pada 1958.

Bahkan Indonesia menerima Kronshtadt Class yang telah ditingkatkan kemampuannya, yakni dengan pemasangan roket anti kapal selam RBU-1200. Dan khusus pesanan enam unit Indonesia ini, pihak Soviet memberi kode project 06.

Lantas apa yang menjadi taji Kronshtadt Class untuk melumat monster bawah laut? Seperti halnya korvet Parchim Class, maka Kronshtadt Class juga dibekali fasilitas dua depth charge rails (rel peluncur bom laut) pada bagian buritan. Bom laut yang dapat dibawa terdiri dari 30 large dan 30 small depth charges. Tidak itu saja, Kronshtadt Class punya dua pucuk mortir anti kapal selam dari jenis BMB-1/BMB-2 Dan sebagai modifikasi akhir, kapal ini juga dilengkapi 2 peluncur roket anti kapal selam RBU-1200. Untuk menjebak pergerakan kapal lawan, 16 unit ranjau Type 1908/39 dapat digelontorkan bilamana perlu.

Sebagai senjata utama adalah satu pucuk kanon 90K dual purposes kaliber 85 mm yang disematkan pada haluan. Untuk penangkis serangan udara, Kronshtadt Class dilengkapi 6 pucuk kanon 2M-7 kaliber 14,5 mm. Uniknya, pada bagian menara (conning tower) dibekali plat baja setebal 8 mm.

Untuk mengendus keberadaan kapal selam, Kronshtadt Class mengusung sonar aktif high frequency jenis Tamir-9/10/11, sonar ini ditempatkan pada hull mounted. Sementara radarnya terdiri dari Giuys-1. Dapur pacu Kronshtadt Class terdiri dari tiga unit diesel engines @3.600 hp “General Motors” dengan 3 shafts. Kecepatan maksimum kapal ini bisa dikebut sampai 20,5 knots. Dalam bekal bahan bakar penuh, kapal ini mampu menejelajah hingga 6.480 km pada kecepatan jelajah 12 knots.

Setelah pecah pecah kongsi Indonesia dan Uni Soviet, kemampuan tempur Kronshtadt Class dipercaya mulai merosot akibat tidak adanya dukungan suku cadang dan logistik. Meski diduga kemampuan sensor anti kapal selamnya telah melorot, namun arsenal persenjataan permukaan yang ada dipadang efektif untuk tugas patroli, belum lagi adopsi mesin diesel yang lebih hemat dibanding penggunaan mesin turbin.

Di penugasan terakhirnya, Kronshtadt Class masuk dalam armada Satuan Kapal Patroli (Satrol) dengan nomer lambung 8xx. Secara bertahap TNI AL memensiunkan kapal patroli ini pada rentang 1975 – 1986.

Adapun Beberapa nama Kronshtadt Class yang pernah dioperasikan TNI AL adalah KRI Barakuda, KRI Kakap, KRI Katula, KRI Landjuru, KRI Lapai, KRI Lumba lumba, KRI Mandidhang, KRI Momae, KRI Palu, KRI Pandrong, KRI Sura, KRI Tohok, KRI Tongkol, dan KRI Tjutjut.

Spesifikasi :
– Class and type: Large submarine chasers/Small anti submarine ships
– Displacement: 302 ton (standard)/ 337,7 ton (full load)
– Length: 52,24 meter
– Beam: 6,55 meter
– Draft: 2,2 meter
– Complement: 50-54

(indomiliter)

READ  Pangdam III/Slw, Tinjau dan Serahkan Bantuan Pada Korban Banjir di Bogor

Leave A Reply

Your email address will not be published.