Pena Khatulistiwa
Menggores Sejarah Peradapan

Polemik Debat Capres, La Nyalla ajak Masyarakat Menanamkan Butir-Butir PANCASILA

 

Penakhatulistiwa.com, Surabaya – Ingin menjadikan masyarakat lebih dewasa untuk memahami Demokrasi dalam negeri, Calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI dari daerah pemilihan Jawa Timur, La Nyalla Mahmud Mattalitti, berharap polemik mengenai debat Capres 2019 menggunakan bahasa asing yang viral di media sosial saling bully antara pendukung agar lebih ke arah yang positif untuk kemajuan Republik Indonesia.

Related Posts
1 of 522

Menurut La Nyalla, polemik antara pendukung Capres itu sudah mengarah ke hal yang kontraproduktif. Seharusnya sebagai para loyalis Capres, masyarakat wajib mengerti mengenai butir-butir PANCASILA yang tertuang dalam SILA ke 3, PERSATUAN INDONESIA.

“Tenaga kita sebagai bangsa terkuras untuk hal-hal yang begini. Bangsa lain sudah berdebat soal robot dan pertanian dengan komoditas super, kita masih bertengkar soal debat pakai bahasa apa,” tutur La Nyalla pada awak media, senin (17/9).

La Nyalla juga mengungkapkan, untuk membangun Indonesia yang sejahtera, akan lebih elok jika perdebatan diarahkan ke hal-hal yang strategis, seperti permasalahan ekonomi, sosial-budaya, reformasi birokrasi, pengembangan teknologi informasi.

“Perdebatan itu inti demokrasi, tapi kita tidak usah permasalahkan pakai bahasa apa. Yang jauh lebih penting adalah substansi debatnya,” imbuh La Nyala yang juga Ketua KADIN Jawa Timur tersebut.

Dengan mengakhiri polemik debat berbahasa asing, La Nyalla berharap energi bangsa, khususnya netizen/warganet, bisa tersalurkan untuk hal-hal yang lebih produktif. Pasalnya, Jokowi dan Sandiaga Uno (Cawapres kubu Prabowo) juga sudah menyatakan penggunaan bahasa dalam debat agar tak perlu lagi dipermasalahkan. Lebih baik energi kita yang melimpah ini disalurkan ke pekerjaan, keluarga, membantu teman yang sedang kesusahan. Bukan malah saling hina di media sosial.

“Polemik debat berbahasa asing ini, mulai Inggris sampai Arab, sudahi sajalah. Ini polemik yang nggak bermutu yang bisa berdampak menimbulkan perpecahan antar anak bangsa dan sudah tidak produktif,” pungkasnya. (Red)

READ  Desa Cibuntu, Peradapan Zaman Megalitikum Sampai Tempat Ritual Raja-Raja Sunda

Leave A Reply

Your email address will not be published.