Pena Khatulistiwa
Menggores Sejarah Peradapan

Mengenal Bangsa Lewat Konservasi Cagar Budaya

Penakhatulistiwa.com – Salah satu tahap dalam pelestarian cagar budaya adalah konservasi. Konservasi dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk menghambat kerusakan, melindungi suatu objek sehingga dapat memperpanjang keberadaannya.

Mengapa konservasi menjadi penting dalam suatu upaya pelestarian cagar budaya? Seperti definisinya, konservasi dapat menghambat kerusakan dan melindungi suatu objek.

Related Posts
1 of 541

“Dengan mengkonservasi suatu cagar budaya, hal ini membantu agar cagar budaya tetap ‘ada’, lestari dan terjaga nilai-nilai yang terkandung dalam suatu cagar budaya,” kata Desfira Ramadhania Rousthesa yang juga Mahasiswa magang sarjana arkeologi UI dinukil dari laman BPCB Jateng

Dikatakan Desfira, Cagar budaya penting untuk dijaga kelestariannya karena cagar budaya adalah bukti dari kejayaan masa lampau, identitas bangsa, dan merupakan warisan bangsa yang dapat dibanggakan hingga ke mancanegara.

Secara umum, konservasi dilakukan dengan tiga tahap, yaitu observasi, perencanaan, dan pelaksanaan. Bidang konservasi bertugas sebelum, selama dan sesudah masa pemugaran suatu cagar budaya. Sebelum pemugaran, konservasi bertugas untuk mengumpulkan data kondisi fisik bangunan dan mengidentifikasi kerusakannya.

“Selama pemugaran, konservasi bertugas untuk membersihkan, merawat, dan memperbaiki. Setelah pemugaran, konservasi bertugas untuk melakukan upaya perawatan dan pengawetan cagar budaya,” ungkapnya.

Tahap pertama dalam proses konservasi adalah observasi. Tahap ini dilakukan untuk mengidentifikasi material dan kondisi pada objek. Konservator harus mengetahui material dari objek yang akan dikonservasi terlebih dahulu karena setiap material memiliki teknik konservasi yang berbeda.

READ  Kanwil Kemenkumham Jatim Ikuti Supervisi dan Konsultasi Teknis Penyelenggaraan Pemajuan HAM

Setelah mengetahui materialnya, konservator harus mencari tahu kondisi pada objek. Melihat keterawatan dari objek tersebut, apakah ditumbuhi mikroorganisme tertentu, atau kondisi saat ditemukan patah atau retak.

“Setelah melihat materi dan kondisi pada objek, konservator akan melakukan analisis untuk menentukan teknik konservasi yang tepat,” ujarnya.

Sesudah menentukan teknik konservasi, maka konservator akan langsung melakukan tindakan-tindakan konservasi. Tindakan pertama adalah pembersihan. Objek ketika ditemukan pasti dalam kondisi yang kotor, berdebu atau ditumbuhi mikroorganisme. Tahap pembersihan terbagi menjadi beberapa teknik, yaitu teknik pembersihan kering, pembersihan basah, pembersihan kimiawi dan scratching.

Dalam penentuan teknik pembersihan dilakukan sesuai kebutuhan sang objek. Hal yang menarik adalah dalam pembersihan objek berbahan kayu, salah satu ramuan dalam bahan pembersihan kayu adalah air rendaman tembakau, cengkeh dan pelepah batang pisang yang kering.

Setelah pembersihan, tahap selanjutnya adalah treatment atau pengawetan. Pengawetan dilakukan untuk menambah kekebalan pada objek. Untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang bersifat merusak objek. Pengawetan dilakukan sesuai keadaan masing-masing objek dan sesuai kebutuhan objek.

“Setelah objek selesai diberi treatment, objek akan diberi lapisan atau coating. Coating dilakukan untuk menghindari objek terpapar udara secara langsung,” terangnya.

Beberapa kondisi yang ditemukan pada objek batu seperti candi, arca dan prasasti adalah tumbuhnya mikroorganisme seperti algae, lichen, dan lumut. Kemudian sering ditemui dalam kondisi patah. Tindakan untuk mengatasi hal ini adalah pembersihan basah untuk membersihkan lumut dan algae.

“Lichen lebih susah dibersihkan, cara untuk membersihkan lichen adalah pembersihan kimiawi menggunakan cairan AC322. Kondisi patah pada batu juga dapat diatasi dengan menggunakan bahan pengeras kimiawi, yaitu Epoxy Resin Araldite LY 560,” jelasnya.

Selain temuan batu, sering juga ditemukan temuan berbahan tanah liat atau gerabah. Para konservator akan mencoba untuk merekonstruksi temuan gerabah tersebut. Mencoba menyambung setiap pecahan agar terlihat bentuk semula dari gerabah tersebut. Bahan yang digunakan untuk menyambung pecahan gerabah tersebut adalah plastic steel dan gelatin.

READ  Dirjen Imigrasi Resmikan ULP Kanim Perak di Lenmarc Mall Surabaya

“Namun perlu diperhatikan, jika menyambung pecahan menggunakan gelatin harus disimpan di tempat yang suhu dan kelembabannya stabil. Karena gelatin merupakan bahan organik yang sifatnya mudah meleleh jika terkena air,” terangnya.

Temuan selanjutnya adalah temuan berbahan logam. Jika dahulu dalam menentukan materi logam harus melakukan penelitian bersifat destruktif, atau mengikir sedikit bagian logam sebagai sampel. Kini dalam menentukan materi logam dapat dilakukan dengan alat bernama XRF atau X-Ray Flourescence.

“Alat XRF ini digunakan untuk memancarkan radiasi sinar X untuk mengetahui komposisi dari penyusun suatu logam. Karena jenis logam memengaruhi bahan dan teknik konservasi yang dilakukan,” ujarnya.

Konservasi adalah suatu usaha untuk menghambat kerusakan, melindungi suatu objek sehingga dapat memperpanjang keberadaannya. Konservasi menjadi kegiatan yang menarik untuk diketahui, karena konservasi adalah salah satu tahapan penting dalam melestarikan suatu objek cagar budaya.

Tidak sembarang orang dapat menjadi konservator. Untuk menjadi konservator, seseorang harus mengetahui rumusan-rumusan yang tepat dalam menangani suatu objek. Walau begitu, menjadi konservator merupakan hal yang menyenangkan karena dapat mempelajari banyak sekali hal.

Foto dan Sumber: Desfira Ramadhania Rousthesa (Mahasiswa magang sarjana arkeologi UI) dan BPCB Jateng

Leave A Reply

Your email address will not be published.