Pena Khatulistiwa
Menggores Sejarah Peradapan

PERAN PENTING ORANG CINA YANG TERKUBUR DALAM SEJARAH KESULTANAN CIREBON

Penakhatulistiwa – Etnis Tionghoa memiliki peranan strategis dalam perkembangan Cirebon.
Hal yang sulit dibantah apabila berkaca pada catatan dan artefak sejarah.
Dalam tuturan babad, disebutkan bahwa istri terkasih Kanjeng Sinuhun Maulana Jati yang bernama Putri Ong Tien pun berasal dari dataran Tiongkok.
Buah cinta keduanya dianugerahi gelar pangeran dan diberi suatu daerah dengan otonomi khusus yang bernama Kuningan.
Bertahun-tahun kemudian, peran Orang Cina dalam pengembangan Cirebon terus terjaga.
Kelompok ini menjadi motor perkembangan wilayah, khususnya dalam bidang perdagangan, dengan jaringan niaganya yang terbentang dari Negeri Tiongkok di Benua Asia hingga ke negara-negara lain yang ada di Benua Afrika dan Eropa.
Beberapa di antaranya bahkan menjadi katalisator negeri yang tidak terbantahkan peranannya.
Saat Cirebon telah bertransformasi menjadi kesultanan dengan dilantiknya putra-putra Pangeran Karim (Panembahan Girilaya) menjadi penguasa yang bertitel “sultan” dan “panembahan”, peran Orang Cina di lingkungan Kesultanan Cirebon sebagai saudagar niaga tetap tidak dapat tergantikan oleh bangsa lainnya.
Bahkan, beberapa tokoh penting dari etnis Tionghoa menjadi pejabat-pejabat kepercayaan para Sultan Cirebon.
Related Posts
1 of 83
Salah satu di antara Tokoh Tionghoa Cirebon yang sangat legendaris namun tidak pernah terungkap dengan jelas kisah hidupnya di dalam diskusi sejarah Cirebon adalah Tumenggung Raksanegara.
Ia adalah seorang etnis Tionghoa yang beragama Islam dan dipercaya oleh Sultan Sepuh I sebagai pejabat pemerintahannya.
Jauh lebih dari itu, Raksanegara juga dipercaya oleh dua saudara Sultan Kasepuhan yang lain, sebagai tangan kanan mereka.
Apa yang membuktikan bahwa Raksanegara adalah seorang Tionghoa muslim? Dalam bagian akhir Perjanjian 1681, dikatakan bahwa semua pihak yang berwenang di Kesultanan Cirebon, mulai dari Ratu Katiga Sanak (Tiga Raja Bersaudara) hingga Orang Besar Cirebon (para pejabat tinggi Kesultanan Cirebon) disumpah dengan Al-Qur’an saat menandatangani perjanjian.
Nama Raksanegara tercantum sebagai salah satu nama petinggi yang ada di dalam kesepakatan tersebut.
Untuk peranannya di dalam kesultanan, Raksanegara memiliki fungsi yang sangat penting.
Strategisnya peran Tumenggung Raksanegara bagi Cirebon, dapat dilihat dalam pasal 6 dan 7 Perjanjian 1685. Di samping itu, pasal 14 hingga pasal 19 yang ada dalam Perjanjian 1688, makin memperkuat posisinya sebagai orang penting Sultan Sepuh I, Sultan Anom I, dan Panembahan Cirebon.
Ketiga perjanjian tersebut dapat dibaca dalam buku *PERJANJIAN DAN KONTRAK SULTAN-SULTAN PERTAMA CIREBON DENGAN PEMERINTAHAN AGUNG VOC.* (Prof Tendy)

Leave A Reply

Your email address will not be published.