Pena Khatulistiwa
Menggores Sejarah Peradapan

SENJATA NUSANTARA DALAM CATATAN ORANG BELANDA

“Traditional weapons of the Indonesian archipelago” karya Albert van Zonneveld merupakan hasil penelitian ekstensif yang dilakukan selama kurun waktu 30 tahun. Kajian ini mengkaji semua jenis senjata dari seluruh kepulauan Indonesia, kecuali Papua Barat, karena wilayah ini secara etnologis lebih dianggap sebagai bagian dari Oseania.
Proyek ini dimulai dengan tujuan dasar untuk mengumpulkan sebanyak mungkin informasi terkait. Selama 25 tahun pertama periode penelitian (internet dan komputer pribadi hanya tersedia secara luas menjelang akhir abad ke-20), penelitian ini benar-benar pekerjaan monastik.
Pendekatan penulisnya melibatkan kunjungan perpustakaan dan melihat serta membaca di tempat ribuan buku, laporan perjalanan, jurnal dan artikel yang diterbitkan dari pertengahan abad ke-19 hingga akhir abad ke-20, dan segala macam sumber di mana informasi berharga mungkin dapat ditemukan tentang senjata Indonesia. Semua temuan yang relevan disalin dan disusun untuk studi lebih lanjut.
Related Posts
1 of 86
Langkah selanjutnya adalah menyusun dan mengindeks informasi yang ditemukan. Metadata yang paling penting adalah bentuk, pulau dan daerah asal, kelompok penduduk, dan nama dari pelbagai senjata tersebut. Nama-nama semua ini sering menimbulkan masalah. Masalah-masalah ini adalah hasil dari fakta bahwa untuk jenis senjata yang sama, kita sering menemukan berbagai macam nama di berbagai sumber.
Pertama-tama, semua ini bervariasi berdasarkan daerah, wilayah dan kelompok populasi. Penting untuk disadari bahwa di Kepulauan Indonesia terdapat sekitar tujuh ratus bahasa yang berbeda dituturkan sehingga menghasilkan tata nama yang sangat beragam.
Kemudian kita melihat perbedaan dalam menamai senjata yang berubah selama berabad-abad. Akhirnya, nama-nama ini seperti yang ditemukan dalam sumber tertulis, terutama yang dicatat oleh orang Eropa. Kerja ini diusahakan dilakukan berdasarkan fonetik, untuk menangkap nama-nama lokal dengan sebaik-baiknya.
Pekerjaan ini dilakukan, tentu saja, dengan menggunakan fonetik bahasa orang yang mencatat nama itu. Akibatnya, terkadang ada lusinan nama untuk satu jenis senjata, dan dengan demikian tidak mungkin menentukan nama yang ‘benar’ dengan jelas. Dalam buku ini nama yang dicatat adalah nama yang ‘paling umum’ digunakan. Deskripsi juga mencakup nama alternatif.
Setelah memilah dan mengindeks data, proses evaluatif menimbang dan menggabungkan semua informasi yang ditemukan diikuti. Atas dasar ini, deskripsi disintesis berdasarkan jenis senjata, menyebutkan sumber yang paling penting.
Terbukti, tidak mungkin untuk menyusun klasifikasi senjata yang tidak ambigu, itulah sebabnya diputuskan untuk mendaftarkannya dalam urutan abjad. Untuk memudahkan studi dan kemudahan penggunaan, telah disertakan jadwal untuk dapat mencari berdasarkan formulir (senjata), serta indeks jenis ini menurut komunitas masyarakat dan pulau.
Langkah terakhir adalah memberikan deskripsi dengan gambar yang representatif. Foto-foto objek koleksi Museum Volkenkunde di Leiden (sekarang bagian dari Museum Nasional Kebudayaan Dunia) telah dibuat, serta foto-foto objek koleksi penulis dan berbagai kolektor pribadi. Foto lapangan diambil dari sumber tertulis dan koleksi dari berbagai perpustakaan.
Selamat membaca.
Albert van Zonneveld. (Tendy)

Leave A Reply

Your email address will not be published.