Pena Khatulistiwa
Menggores Sejarah Peradapan

BPET MUI Berikan Sosialisasi ke Masyarakat Tentang Bahaya Gerakan Radikal-Terorisme

Penakhatulistiwa – Jakarta : Wakil Ketua Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme (BPET), Brigjen Pol Hamli, mengatakan Indonesia saat ini masih menghadapi empat ancaman besar seperti korupsi, narkotika, bencana alam dan juga radikal-terorisme. Setiap orang berpotensi terpapat paham radikal-terorisme yang bisa pada akhirnya menjadi pelaku terorisme.

“Indonesia saat ini menghadapi empat ancaman besar, di antaranya: korupsi, narkotika, terorisme, bencana alam. Korupsi penting untuk diberantas, selain karena merugikan masyarakat, korupsi juga menjadi dalih bagi para teroris untuk menggiatkan pembentukan Negara Islam Indonesia,” kata Hamli dalam kegiatan Ngaji Kebangsaan MUI (27/4/2022).


Hamli menambahkan, disisi lain ancaman yang juga nyata dihadapan kita yakni gangguan kamtibmas seperti masuknya paham yang tidak sesuai dengan konstitusi negara dan moderasi beragama. Ini perlu kita cegah bersama dan perlu menjadi perhatian kita semua. 

“Hakikat gangguan kamtibmas seperti potensi gangguan (misalnya masuknya paham radikal-terorisme ke Indonesia), ambang gangguan (medsos yang menyebarkan ajaran provokatif), gangguan nyata (jika postingan medsos provokatif ini dibiarkan sampai menimbulkan pelanggaran hukum). Dan penyebarannya pun sudah masuk ke tempat pendidikan, tempat kerja, perkantoran, perumahan dan lainnya,” ungkapnya.


Ketua Perempuan, Remaja dan Keluarga (PRK) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Dr. Hj. Siti Ma’rifah, mengatakan adanya kesulitan mengenali para pelaku teror dari sisi fisik, karena itu kita perlu bekerjasama dengan pihak keamanan dalam mensosialisasikan pencegahan dan penanggulangan gerakan radikal-terorisme tersebut.

“Sulit mengenali pelaku teror dari penampilan luar, apalagi saat ini seorang perempuan pun berani melakukan aksi teror. Adanya BPET ini menjadi peluang yang sangat baik untuk kita mencegah atau pun menanggulangi tindak terorisme di Indonesia, kehadiran BPET akan melengkapi MUI, BNPT, dan Polri. Mudah-mudahan kita bisa bersama-sama membuat peta dakwah kedepannya, karena ini sangat penting untuk upaya pencegahan penyebaran paham radikalisme,” pungkasnya.


Siti Ma’rifah mengungkapkan bahwa kita sebagai warga harus memiliki prinsip moderat, toleran, berkeseimbangan, musyawarah dan lain-lain. Prinsip ini sebagai bekal utama untuk menjadi warga negara yang baik dan bijaksana.

“Prinsip-prinsip Wasathiyah seperti jalan tengah, toleran, berkeseimbangan, musyarawarah, dan lain-lain harus kita pegang erat-erat. Bekal ini untuk menghindari kita dari terlibat ke kelompok radikal-terorisme. Untuk mencegah maraknya penyebaran radikalisme ini, peran keluarga sangatlah penting, terutama aperan seorang ibu yang merupakan pendidikan pertama bagi anak,” tutupnya. 

READ  Silaturahmi Kapolres Cirebon Kota AKBP IMRON ERMAWAN, S.H, SIK, M.H dengan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia Cirebon Raya (IJTI)
1 of 178
__ATA.cmd.push(function() { __ATA.initDynamicSlot({ id: 'atatags-1577394121-6284cf05a0a9d', location: 120, formFactor: '001', label: { text: 'Iklan', }, creative: { reportAd: { text: 'Laporkan iklan ini', }, privacySettings: { text: 'Pengaturan privasi', } } }); });

Leave A Reply

Your email address will not be published.