Pena Khatulistiwa
Menggores Sejarah Peradapan

Kemenangan Timnas U-16 Diwarnai Panpel Yang Tidak Profesional

 

Penakhatulistiwa.com, Sidoarjo – Kemenangan Timnas Indonesia U-16 setelah berhasil menjuarai Piala AFF
U-16 2018 saat menghadapi timnas Thailand U-16 lewat adu penalti 4 vs 3 (1 vs 1). Dalam pertandingan yang digelar di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, dihiasai kinerja panitia penyelenggara (Panpel) mendapatkan respon kurang memuaskan dari penonton, Sabtu (11/8).

Related Posts
1 of 511

Panitia Penyelenggara (Panpel) juga mendapatkan kritikan dari berbagai pihak. Baik dari kalangan pejabat pemerintah, pejabat TNI dan Polri serta
masyarakat umum yang menayaksikan laga final piala AFF U-16 di Stadion
Delta GOR Sidoarjo terkait penanganan pengamanan yang dilakukan Panpel
mapun PSSI dilapangan saat laga final atau selama pelaksanaan kejuaraan berlangsung.

“Kekecewaan saya sebenarnya selaku tuan rumah, bahwa event tingkat nasional maupun internasional seharusnya ada kapasitas yang mumpuni,” kata Franki Effendi selaku ketua Umum KONI Sidoarjo pada wartawan, minggu (12/8).

Berangkat dari niat dan tekad, lanjutnya, seharusnya Sidoarjo bisa menunjukan sebagai tuan rumah yang baik dan sopan. Serta tidak akan mengecewakan para penonton yang notabene dari kalangan masyarakat luas.

Seperti masalah tiket. Jangankan masyarakat luas, kalau bicara kecewa, KONI Kabupaten Sidoarjo juga merasakan. Tiket yang sifatnya
gratis hanya 10 tiket, selebihnya beli dengan harga yang luar biasa.

“Kebanyakan masyarakat mengeluhkan kurangnya tiket. saya jujur membeli tiket
dengan harga dua kali lipat. Selebihnya beli sekitar 25 tiket, yang 10
tiket dengan harga 400 ribu. Padahal harga normal tiket 150 ribu. Kami hanya ingin memfasilitasi para atlet
Sidoarjo yang berprestasi sekitar 100 -200 atlet. Dan kami hanya ingin
difasilitasi, bukan meminta tiket,” ujarnya.

Prinsipnya, Frangki mengatakan, dalam perhelatan besar kejuaraan seperti ini, agar para bibit atlet yang khususnya Sidoarjo bisa membuat semakin berprestasi dan termotivasi.

Disoal mengenai minimnya tiket, franki menegaskan, banyak penonton yang tidak membeli tiket di lapangan. “Seperti
diketahui dilapangan, kebanyakan penonton membeli tiket lewat calo.  Mungkin hal ini juga menjadi PR besar buat para petugas kepolisian di lokasi,” terangnya.

 

Selain itu, sebagai ketua KONI Sidoarjo, Franki berharao dalam penyelenggaraan yang menjadi
bagian untuk event besar seperti nasional maupun
internasional seharusnya Panpel bisa profesional dalam pelaksanaan.

Sementara itu, Arzeti Bilbina Anggota DPR RI dari PKB  Komisi X Dapil Jatim
yang membidangi Kebudayaan, Pariwisata, Ekonomi, Kreatif Pemuda dan OlahRaga Perpustakaan juga mengatakan, selain mensosialisasikan penyelenggaraan Asean Games juga mendukung perjuangan anak bangsa yang mengharumkan lewat juara.

Turut prihatin, Arzeti juga menyesalkan terkait amburadulnya kinerja jajaran Panitia Penyelanggara (Panpel) saat menghadapi event besar.

“Seharusnya para pejabat harusnya diprioritaskan untuk membantu. Karena tujuannya juga mensukseskan Asean Games serta memberikan support untuk mendukung pelaksanaannya,” tutupnya. (21k)

READ  Puasa Ramadhan Pertama, Pemuda Pancasila Jatim Bagi Takjil

Leave A Reply

Your email address will not be published.