Take a fresh look at your lifestyle.

Catatan Sejarah “Drama Kolosal Surabaya Membara”

0

 

Penakhatulistiwa.com, SURABAYA – Sejarah berawalnya pagelaran drama kolosal yang saat ini di kemas oleh komunitas “Surabaya Membara” memiliki sejarah yang panjang.

Diawali pada tahun 1990, drama yang bertujuan untuk mengingatkan kepada masyarakat bahwa dahulu kala pernah terjadi pertempuran sengit di area tugu pahlawan dan sekitarnya kini telah berubah nama dan konsepnya. Drama kolosal yang pada saat itu di sutradarai oleh Sam Abd Pareno, mendapatkan suport dana atau pembiayaan dari Pemkot Surabaya.

Drama yang berjudul “Viaduk Sebuah Saksi” menjadi cikal bakal terbentuknya drama kolosal yang masih berlangsung hingga kini.

Berbeda dengan konsep yang sekarang, “Viaduk Sebuah Saksi” menjadi sebuah suguhan yang bersifat edukatif tanpa menghilangkan estetika sebuah pertunjukan. Pada saat itu banyak element yang terlibat di dalamnya. Dengan sistem kordinasi merata hingga jajaran Kelurahan, penyelenggara mampu meramu sajian yang berkaitan dengan peristiwa pertempuran 10 November 1945 saat itu seperti hadir kembali di tengah masyarakat era 90’an. Keterlibatan seperti SKS2, AL, AU,AD dan melibatkan sebanyak 3000 personil menambah suasana semakin berkobar.

Dalam pertunjukan itu sutradara juga menghadirkan Pesawat DAKOTA milik TNI AU yang turut serta dalam drama kolosal tersebut. Selain itu pihak Marinir juga ikut dalam penampilannya sebagai tentara Belanda dan tak lupa anak kampung juga ikut berperan serta menjadi pemuda rakyat. Yang mengharukan lagi, para Veteran meminjamkan sepatunya kepada para pemeran dan mahasiswa berasal dari Jombang juga ikut secara sukarela berperan menjadi Laskar Hisbullah serta Laskar Santri. Penampilan drama kolosal saat itu benar benar memiliki kolektifitas dengan kesenian yang lain. Dan gladi bersihnya pun memakan waktu selama seminggu.

Bahkan hebatnya lagi, saat memasuki adegan Kereta Api yang melintas di Viaduk, sarat mengundang perhatian penonton. Pasalnya, ada 4 pemuda yang berdiri di atas rel untuk berniat menghentikan laju Kereta yang melintas saat itu. Dengan keberanian arek SUROBOYO yang di gambarkan pada adegan itu, serasa nyata yang di rasakan oleh penonton. Tak lama akhirnya Kereta pun berhenti. Lalu ke empat pemuda itu menuliskan sebuah kalimat di Viaduk yang berbunyi
“SEKALI MERDEKA TETAP MERDEKA”.

Tidak lama ketegangan para penonton saat melihat adegan itupun menjadi reda setelah poses penulisan tersebut usai. Mengapa demikian, dapat dibayangkan, jika adegan itu tanpa kordinasi yang matang, pasti akan terjadi hal yang tidak diinginkan. Belum lagi adegan Tank tempur yang di libatkan dalam drama tersebut di tambah pembakaran mobil jeep yang seolah olah dalam adegan itu menjadi kendaraan sang jenderal Mallabi yang terbunuh dalam peristiwa pertempuran kala itu.

Namun setelah memasuki era kepemimpinan Bambang DH, Drama kolosal itupun di hentikan. hingga menimbulkan permasalahan baru. Moment penting untuk memperingati hari pahlawan seakan hilang (Lost Spirit). Sampai sampai masyarakat saat itu tidak ingat lagi jika memasuki peringatan hari pahlawan. Hal ini benar banar terjadi saat itu.

Pada akhirnya muncul inisiatif dari beberapa elemen yang sempat membicarakan keresahan ini melalui sebuah forum yang ada di gedung DPRD Kota Surabaya. Dilanjut dengan pertemuan lain yang dipimpin oleh Fitra saat itu, menghasilkan keputusan bahwa penggelaran drama kolosal setiap Hari Pahlawan tetap di selenggarakan.

Pada tahun 2008-2009 dengan kesepakatan bersama, Taufik Hidayat alias Taufik Monyong ditunjuk sebagai orang nomer satu yang akan menjalan program ini di kemudian hari. dari situlah berdiri “Surabaya Membara”.

Pada saat dimulainya “Surabaya Membara” yang pertama, sempat di ikuti oleh 100 anggota Pemuda Pancasila dan 100 Personil Korem dan relawan Oi, Pemuda Nusantara, FKPPI serta kartar. Kemudian Komandan Korem saat itu memberikan saran kepada seluruh personil yamg terlibat dalam “Surabaya Membara” untuk di jadikan lembaga yang memiliki legalitas. Sebab setelah terbentuknya komunitas ini, pasti akan ada dana dari publik yang masuk. untuk itu perlu legalitas, supaya ada laporan dan bentuk pertanggung jawaban dari penyelenggara untuk publik.

Dengan berjalannya waktu, masyarakat yang ingin menyaksikan secara langsung rekrontruksi pertemuran berdarah ini semakin meningkat. Tentu saja hal ini menjadi pemikiran dari beberapa pelaku seni di Surabaya, salah satunya adalah Meymura.

Saat dijumpai oleh MediaRakyatjelata.com mejelaskan, memang benar “Viaduk Sebuah Saksi” itu menjadi cikal bakal drama kolosal yang ada di Surabaya hingga saat ini. cara kerja kami pada saat itu melakukan kordinasi di berbagai pihak, sampai pada tataran paling bawah setingkat Kelurahan perijinan dan kordinasi kami lakukan, supaya dalam pelaksanaan drama dapat berjalan sesuai harapan.

“Saya memang sempat mengikuti “Surabaya Membara” sampai episode yang ke 4. kalau gak salah pada tahun 2014 sudah mengundurkan diri. Setelah itu saya sudah tidak terlibat, karena sesuai pesan Komandan Korem pada saat itu harus ada Laporan dan bentuk pertanggung jawaban. Makanya di buatkan legalitas, supaya kita bisa melaporkan ke Publik terkait pelaksanaan drama Kolosal tahunan ini, tapi dalam pelaksanaan waktu itu tidak ada laporan pertanggung jawaban, makanya saya memutuskan mundur,” terangnya.

Tak hanya itu, Meymura juga menambahkan, pada saat itu saya berharap, memasuki episode ke 5 kalau bisa sudah pindah ke lokasi lain. Sebab di Tugu Pahlawan kurang memenuhi syarat lagi. Kenapa demikian, penonton sudah gak maksimal jarak pandangnya.

“View yang terhalang oleh bangunan di Tugu Pahlawan menjadi persoalan. Harapan saya waktu itu dipindah ke Gelora 10 November, supaya ada ruang yang lebih luas. Dan menjadikan lokasi Gelora sebagai Destinasi wisata baru dalam setiap memperingati Hari Pahlawan. Selain itu akan menjadi sebuah pagelaran drama kolosal terbesar yang pernah ada. Bersama theater Semesta, karena peperangan saat itu adalah perang semesta,” pungkasnya. (Red)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy