Pena Khatulistiwa
Menggores Sejarah Peradapan

DULAG FITRAH MASA KOLONIAL

Penakhatulistiwa : Sekira tahun 1930-an, kalangan ulama Islam Puseur Dayeuh Bandung, mencari informasi mengenai visibilitas hilal penentu tanda berakhirnya Syahru Ramadhan. Di Masjid Kaum Cipaganti, yang berada di ketinggian, ahli falaq terus mengamati garis cakrawala untuk melihat konjungsi bulan-matahari guna menentukan jatuhnya Hari Raya Idul Fitri.

Kala itu, para ahli rukyat masih menggunakan peralatan yang sederhana, karena teknologi dalam pengamatan dan penghitungan belum semaju saat ini. Ditambah lagi, sejak hari belum berganti malam, awan hitam telah merata di langit, dan rintikan hujan mengirinya dengan syahdu. Bulan tak jua menampakan wajah indahnya. Di tengah kondisi itu, hampir saja hilal 1 Syawal gagal ditentukan.

Related Posts
1 of 192

Sementara alim ulama berjibaku dengan tugasnya, masyarakat lembur dan dayeuh Priangan hanya bisa pasrah menunggu ihwal kabar penetapan di masing-masing rumah sederhana mereka. Pada masa itu, kehadiran hujan mampu menciutkan nyali manusia untuk keluar dari kediamannya. Payung dan dudukuy kala itu masih sangat terbatas jumlahnya.

Tak berapa lama, kabar menggembirakan datang. Hilal 1 Syawal telah tampak dan ditetapkan. Opas-opas perkotaan pun menabuh kentongan mengabarkannya ke seluruh penjuru kota. Seiring menggemanya informasi tersebut, hujan lambat laun menghentikan rintiknya ke bumi. Kota yang semula sepi, kini riuh dengan dulag fitrah yang bertalu-talu.

Masyarakat menengah ke bawah mempersiapkan kudapan lebaran, yang masih sederhana. Di Kuningan, ada jawadah dan wajit, yang tersedia di rumah-rumah. Kalangan yang lebih mewah, menyediakan kuliner bergaya Barat seperti kue kering nastar atau kastengel. Walaupun tampak berbeda gaya, mereka semua merayakan Hari Raya di hari yang sama.

Sementara itu, para lelaki yang meramaikan malam takbiran dengan bunyi-bunyian, menjadi hiburan anak-anak yang tertawa cekikikan. Tidak hanya dengan menabuh dulag atau kentongan, mereka menghiasi malam juga dengan bermain karbit dan petasan. Meski lelah dan keringat telah hinggapi seluruh badan, tampaknya tak terasa karena itu adalah malam kegembiraan.

Keesokan harinya, penduduk setiap dayeuh di kota dan daerah tumpah ruah di masjid atau ruang terbuka. Dengan khidmat mereka melaksanakan shalat Idul Fitri tanpa ada rasa takut atau tindak paksa. Pemerintah Kolonial Hindia Belanda yang tengah jadi penguasa, juga tidak membatasi masyarakat dalam memanifestasikan ajaran dan kepercayaan rakyatnya.

Pasca melaksanakan Shalat Raya, masyarakat berkeliling ke sanak saudara. Bahkan di antaranya ada yang berjalan kaki hingga ke luar daerah, apabila kerabatnya tinggal jauh dari kediamannya. Meskipun pada masa sebelumnya mobilisasi massa sukar dilakukan, pasca politik terbuka hal itu memungkinkan terjadi akibat lahirnya kota-kota industri.

Kini setelah hampir seratus tahun, pelbagai aktivitas masa lalu itu masih dapat kita saksikan di mana-mana. Di kampung saya, kupat dan jawadah masih ada, meski eksistensinya telah kalah dengan kue kering macam nastar dan putri salju yang kini meraja. Meskipun arus globalisasi telah melahirkan gado-gado budaya, semoga saja kebiasaan arif dan baik kita, tetap dapat lestari sepanjang masa.

Di akhir bulan Ramadhan ini, kami mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriyah. Mohon maaf lahir dan bathin. (Prof Tendy)

READ  SINOMAN (GOTONG ROYONG ALA SURABAYA)

Leave A Reply

Your email address will not be published.