Pena Khatulistiwa
Menggores Sejarah Peradapan

Lautan Api di Pangkalan BERANDAN (Bag.1)

 

Penakhatulistiwa.com – Sekutu terus menunjang gerakan militernya melalui wadah (AFNE) – Alied Forces Netherlands East Indies). Sementara pasukan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) turut membonceng dalam Pasukan Sekutu tersebut, Pasukan Belanda itu mendarat di perairan Pantai Cermin dan Tanjung Tiram, bergerak merebut tempat yang penting.

Related Posts
1 of 482

Kolonialis Belanda yang masih bermimpi akan kejayaannya di masa lampau itu, semakin terperangkap kedalam petualangan militernya, tanpa peduli kecaman dunia internasional.

Pada tanggal 21 Juli 1947, dengan kode aksi produksi, yaitu untuk menguasai perkebunan karet, teh, kopi dan tambang minyak, Tentara Belanda melakukan penyerangan ke Wilayah wilayah yang di Kuasai Republik Indonesia.

Aksi ini oleh Pihak Republik Indonesia diberi nama Agresi Militer Belanda, sementara Belanda sendiri menamakan tindakannya itu sebagai Aksi Polisionil.
Aksi Polisionil Pasukan Belanda
Menghadapi ancaman Pihak Belanda. Itu tentu saja Pemerintah Indonesia yang didukung para Pejuang tak mau tinggal diam. Mereka terlibat dalam berbagai kesibukan, hal ini cukup beralasan karena Pasukan Belanda yang membonceng Pasukan NICA, sudah melakukan pemindahan Pasukannya ke Tanjung Pura, untuk melakukan onfensif merebut Kilang Minyak di Pangkalan Berandan.

Pada tanggal 23 Juli 1947, setelah terbentuk ”Komando Langkat Area” yang di prakarsai oleh Letnan Djakarzah, maka pada keesokan harinya disusun lengkap struktur ”Komado Langkat Area” dan pimpinan komando dipegang oleh Mayor Widji alvisah, yang sebelumnya adalah Komando Batalyon I Resimen I Divisi X TRI merangkap menjadi PMC (Plantselijik Militer Comandant) di Tanjung Pura.

Pada tanggl 31 Juli 1947, Komando Langkat Area mengadakan musyawarah dan mengambil keputusan bahwa kota Tanjung Pura tidak dapat dipertahankan lagi, maka Komando Langkat area mengambil keputusan untuk membangun garis pertahanan baru disebelah Barat Laut, kerena sudah diperhitungkan pihak pejuang, bahwa pasukan Belanda akan melakukan penyerangan dari arah darat, laut dan udara menuju kota Pangkalan Berandan.

Sementara Komando Langkat Area melakukan reorganisasi pasukan dalam tiga kelompok pada tiga sektor, berasal dari penyatuan lasykar rakyat yaitu Laskar Napindo yang bermarkas di jalan Dempo, Laskar Pesindo yang bermarkas di jalan Imam Bonjol (Gang Kunai) dan Laskar Harimau Liar dari kesatuan Batalyon 17 bersama komandannya Amir Hanafiah bermarkas di desa Alur Dua Pangkalan Berandan. Bersama dengan pembagian sektor oleh Komandan Batalyon 17 digabung dengan Batalyon Resimen I Divisi KTRI.

Selanjutnya konsolidasi dilakukan dan pelaksanaan pembagian sektor sebagai berikut : Batalyon II Hisbullah yang berasal dari Langkat Hulu dan Batalyon III Hisbullah yang berasal dari Medan Utara, digabungkan menjadi satu kesatuan tim dibawah pimpinan Rachmad Buddin. Batalyon Langkat Kesatria Pesindo dibawah pimpinan
Amir Hanfiah yang merupakan sayap tengah pertahanan Pangkalan Berandan Area, karena terdapat Jalan Raya Tanjung Pura Pangkalan Berandan yang diperhitungkan akan menjadi sasaran utama Militer Belanda.

Batalyon Tentara Pengawal Kereta Api dan Tambang Minyak (TPK & TM) yang berada di bawah pimpinan Mayor Nazaruddin beserta kesatuan kesatuan kecil yang berasal dari Laskar Napindo Teluk Aru dibawah pimpinan Habib Lubis dan Zainal abidin dan Barisan Harimau Liar dibawah pimpinan Habib Umar yang tergabung dalam Batalyon 17, diberi tugas untuk mempertahankan kota Pangkalan Berandan dan disebelah Utara hingga muara sungai Babalan dan daerah pantai di sekitar Teluk Meku yang terletak disebelah Timur Laut Pangkalan Berandan.

Sektor pertahanan ini merupakan sayap kiri medan pertahanan Pangkalan Berandan Area, dan yang menjadi Komandan Front sayap kiri ini ialah
Mayor Nazarudin yang juga Komandan Batalyon TPKA & TM, merangkap menjadi Komandan Militer kota (Plaatzelijik Militair Commandant).

Barisan Merah yang berasal dari Medan Utara dibawah pimpinan M. Djusuf, membangun medan pertahanan di daerah Bukit Mangkirai, terletak sekitar 4 km disebelah Barat Laut Tanjung Pura, pertahanan Bukit Mangkirai ini adalah bagian dari pada sayap tengah pertahanan Pangkalan Berandan Area. Yang menjadi komandan front sayap tengah ini, ialah Komandan Langkat Area yaitu Mayor Widji Alvisah.

Tanggal 3 Agustus 1947, Pertahanan baru Berandan Area itupun telah selesai dibangun. Sementara, Pasukan Belanda mencoba mengadakan penyerangan dari darat, laut dan udara. Gerakan gerakan tentara Belanda yang dalam sejarah mereka diperkenalkan dengan nama aksi polisional mulai dicetuskan.
Pembersihan, begitu istilah Belanda, mereka lakukan mulai dari aksi penerobosan front Medan Area, selanjutnya menyerang dan merebut kota Binjai, kemudian kota Stabat diduduki dan membuat benteng pertahanan di pangkal jembatan Sei Wampu di kota Stabat, hal ini dapat di mengerti sebagai suatu pertanda bahwa Belanda sudah mulai melakukan ekspansinya ke daerah Langkat dan kalau begitu pastilah akan merampas Kota Pangkalan Berandan, kota tambang minya sumber energi perang.

Pasukan Belanda Menghimpun kekuatan di Tanjung Pura, menyusul kemenangan mereka dalam beberapa rangkaian pertempuran. Namun untuk mencaplok kota Pangkalan Berandan pasukan Belanda Menemui jalan buntu, rangkaian serangan Belanda dapat digagalkan oleh para pemuda dan kesatuan tentara Republik. Pertempuran itu terjadi dibatas demarkasi Gebang, pasukan Sekutu dan Belanda berhasil di pukul mundur, banyak korban jatuh disana, perang dibatas demarkasi Gebang merupakan salah satu tonggak sejarah perjuangan bangsa, demarkasi Gebang yang penuh heorisme !.

Dalam pertempuran itu, Sekutu mengakui mengakui keunggulan para stratig Republik yang bergerak ke medan perang dengan senjata sederhana. Dalam pertempuran di Batas Demarkasi Gebang, pasukan Sekutu dan Belanda berhasil dipukul mundur, dan balik arah kembali ke Tanjung Pura.

Sementara itu, percaturan politik dan militer terus berjalan, disaat kekuatan tentara Sekutu di tarik dari Wilayah Indonesia, kesatuan Militer Inggris dan Gurkha meninggalkan perairan Indonesia. Namun pasukan Kolonialis Belanda tetap bertahan, mereka menampik kemustahilan dan tidak akan mengabaikan sumber kekuatan energi perang yang sekaligus mendatangkan keuntungan keuangan yang cukup potensial itu.

Posisi strategis terdapat di Pangkalan Berandan, yang mengandung kekayaan bahan tambang yang dapat dijadikan tempat konsentrasi kekuatan yang bisa digunakan sebagai batu loncatan untuk melakukan penyerbuan ke Daerah Aceh kelak. Dan justru karena itu sebagian besar pasukan kita ditumpahkan mundur ke Pangkalan Berandan untuk bersiap siaga menghimpun semua kekuatan revolusi, dari garis belakang mengalir pasukan-pasukan baru, bersenjata aneka macam bedil dan senapan mesin, peluru dan mortir hasil rampasan dari Pasukan Jepang.

Sepanjang front mereka siaga untuk mempertahankan tambang minyak dan daerah ujung pertahanan Langkat Area belahan Sumatera Timur bagian Utara. Pertahanan gigih dan mati-matian dipersiapkan setangkas semangat yang dipunyai dengan tekad ”daripada berputih mata lebih baik berputih tulang, daripada hidup bercermin bangkai, lebih baik mati berkalang tanah” .

(PPDSM)

READ  Kanimsus Surabaya Serahkan Paspor CJH 2019 Secara Simbolis

Leave A Reply

Your email address will not be published.