Pena Khatulistiwa
Menggores Sejarah Peradapan

Pidato BUNG TOMO Membakar Semangat Arek Suroboyo

 

Penakhatulistiwa.com – Setelah 73 tahun silam, tepatnya 10 november 1945, telah terjadi perang dahsyat untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Kota Surabaya yang akhirnya menjadi catatan sejarah yang tidak bisa dilupakan untuk Republik Indonesia.

Related Posts
1 of 482

Sebagai Pejuang yang ikut dalam perang tersebut, Bung Tomo memiliki andil besar dalam mengobarkan semangat arek-arek Suroboyo, memompa jiwa nasionalisme dan semangat lewat pidato-pidatonya.

Sebelum membacakan pidato itu, Bung Tomo terlebih dahulu menghadap Hadratussyaikh KH. Hasyim Asyari selaku Rais Akbar Nahdlatul Ulamapada saat itu. Bung Tomo izin untuk membacakan pidatonya yang merupakan manifestasi dari resolusi jihad yang sebelumnya telah disepakati oleh para ulama Nahdlatul Ulama.

Resolusi jihad bermula saat Presiden RI pertama, Soekrano mengirim utusan kepada KH. Hasyim Asyari. Soekarno menanyakan bagaimana hukumnya dalam agama Islam membela Tanah Air dari ancaman Penjajah. KH. Hasyim Asyari tidak langsung menjawab, melainkan meminta masukan kepada Para Kyai terlebih dahulu.

Pada tanggal 21-22 oktober 1945, KH. Hasyim Asyari mengumpulkan wakil-wakil dari Cabang Nahdlatul Ulama di seluruh Jawa dan Madura di Surabaya. Dalam pertemuan tersebut, diputuskan bahwa melawan Penjajah sebagai Perang Suci adalah JIHAD.

Pada 10 november 1945 atau tepatnya 2 minggu setelah resolusi jihad dikumandangkan, terjadilah perang sengit melawan Tentara Inggris di Kota Surabaya. Perang yang berlangsung kurang lebih selama 3 minggu ini, akhirnya dimenangkan oleh arek-arek Suroboyo.

Berikut isi dari pidato Bung Tomo yang membakar semangat perjuangan Arek-arek Suroboyo :

Bismillahirrahmanirrahim
Merdeka!!!

Saoedara-saoedara ra’jat djelata di seloeroeh Indonesia,
teroetama, saoedara-saoedara pendoedoek kota Soerabaja

Kita semoeanja telah mengetahoei bahwa hari ini tentara Inggris telah menjebarkan pamflet-pamflet jang memberikan soeatoe antjaman kepada kita semoea.

Kita diwadjibkan oentoek dalam waktoe jang mereka tentoekan, menjerahkan sendjata-sendjata jang kita reboet dari tentara djepang.

Mereka telah minta supaja kita datang pada mereka itoe dengan mengangkat tangan.

Mereka telah minta supaja kita semoea datang kepada mereka itoe dengan membawa bendera poetih tanda menjerah kepada mereka.

Saoedara-saoedara,
didalam pertempoeran-pertempoeran jang lampaoe, kita sekalian telah menundjukkan bahwa
ra’jat Indonesia di Soerabaja

pemoeda-pemoeda jang berasal dari Maloekoe,

pemoeda-pemoeda jang berasal dari Soelawesi,

pemoeda-pemoeda jang berasal dari Poelaoe Bali,

pemoeda-pemoeda jang berasal dari Kalimantan,

pemoeda-pemoeda dari seloeroeh Soematera,

pemoeda Atjeh, pemoeda Tapanoeli & seloeroeh pemoeda Indonesia jang ada di Soerabaja ini,

didalam pasoekan-pasoekan mereka masing-masing dengan pasoekan-pasoekan ra’jat jang dibentuk di kampoeng-kampoeng, telah menoenjoekkan satoe pertahanan jang tidak bisa didjebol, telah menoenjoekkan satoe kekoeatan sehingga mereka itoe terdjepit di mana-mana

Hanja karena taktik jang litjik daripada mereka itoe, saoedara-saoedara
Dengan mendatangkan presiden & pemimpin-pemimpin lainnja ke Soerabaja ini, maka kita toendoek oentoek menghentikan pertempoeran.

Tetapi pada masa itoe mereka telah memperkoeat diri, dan setelah koeat sekarang inilah keadaannja.

Saoedara-saoedara, kita semuanja, kita bangsa Indonesia jang ada di Soerabaja ini akan menerima tantangan tentara Inggris ini.

Dan kalaoe pimpinan tentara Inggris jang ada di Soerabaja ingin mendengarkan djawaban ra’jat Indonesia, ingin mendengarkan djawaban seloeroeh pemoeda Indonesia jang ada di Soerabaja ini

Dengarkanlah ini hai tentara Inggris,
ini djawaban ra’jat Soerabaja
ini djawaban pemoeda Indonesia kepada kaoe sekalian

Hai tentara Inggris!,
kaoe menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera poetih takloek kepadamoe,
menjuruh kita mengangkat tangan datang kepadamoe,
kaoe menjoeroeh kita membawa sendjata-sendjata jang kita rampas dari djepang oentoek diserahkan kepadamoe

Toentoetan itoe walaoepoen kita tahoe bahwa kaoe sekalian akan mengantjam kita oentoek menggempoer kita dengan seloeroeh kekoeatan jang ada,

Tetapi inilah djawaban kita:
Selama banteng-banteng Indonesia masih mempoenjai darah merah jang dapat membikin setjarik kain poetih mendjadi merah & putih,

maka selama itoe tidak akan kita maoe menjerah kepada siapapoen djuga!
Saoedara-saoedara ra’jat Soerabaja,
siaplah keadaan genting
tetapi saja peringatkan sekali lagi, djangan moelai menembak,
baroe kalaoe kita ditembak, maka kita akan ganti menjerang mereka itu.

Kita toendjoekkan bahwa kita adalah benar-benar orang jang ingin merdeka.

Dan oentoek kita, saoedara-saoedara, lebih baik kita hantjur leboer daripada tidak merdeka.

Sembojan kita tetap: MERDEKA atau MATI.

Dan kita jakin, saoedara-saoedara,
pada akhirnja pastilah kemenangan akan djatuh ke tangan kita

sebab Allah selaloe berada di pihak jang benar

pertjajalah saoedara-saoedara,
Toehan akan melindungi kita sekalian

Allahu Akbar..! Allahu Akbar..! Allahu Akbar…!

MERDEKA!!!

READ  PKL Pasar Keputran Menanti Ketegasan Kasatpol PP

Leave A Reply

Your email address will not be published.