Pena Khatulistiwa
Menggores Sejarah Peradapan

BRUG WALANDA DI LURAGUNG

Selepas sekolah dasar dulu, saya dan teman-teman SD saya pulang dengan berjalan kaki melewati sebuah jembatan desa di dekat rumah Pak Kuwu (demisioner). Kami menyebut jembatan itu dengan nama “brug”. Bagi kami, brug bukan hanya penghubung lembur tapi juga tempat bermain yang asik. Kami yang tidak sakti ini memiliki banyak kenangan disana karena sering loncat-loncatan dari jembatan tinggi itu tanpa pengaman apapun!

Setelah sekian dasawarsa, saya yang jadi seorang pembaca literatur multi-bahasa, ternyata menemukan kosakata “brug” dalam banyak buku yang berbahasa Belanda. Tidak hanya itu, sumber dan data sejarah yang berkaitan dengan tempat asal saya, beberapa kali memunculkan kata itu dalam catatan tertulis mereka. Sebagai contoh adalah jembatan Luragung arah Cikadu, yang ternyata adalah “brug” buatan KNIL & KL Belanda!

Related Posts
1 of 116

Pasca proklamasi, De 16e Cie Legergenietroepen (Tentara Zeni Divisi 16) Belanda bertugas di wilayah Luragung untuk membantu pasukan Belanda menangani perlawanan kaum Republieken yang bergerilya di pedalaman Ciwaru. Pada saat kedatangannya ke sana, mereka menemukan bahwa akses tentara terbatas karena mereka sulit menyeberangi Sungai Cisanggarung yang merupakan sungai terbesar di Kab. Kuningan.

Pada akhirnya, tentara zeni Belanda itu mendapat tugas untuk membangun sebuah “brug” yang kokoh untuk membantu mempermudah mobilitas militer dan masyarakat. Karena ahli dan sangat terlatih, mereka mampu membangun jembatan itu dalam tempo yang singkat. Setelah rampung, Komandan Bridge-W, Kolonel Paulissen, meresmikan jembatan itu dengan ditemani Wedana Luragung bernama Oel Koesna.

Selepas membaca arsip-arsip itu, saya berpikir. Apakah mungkin istilah “brug” yang kami kenal itu, berasal dari penyebutan masyarakat pada masa lalu yang memanfaatkan “brug” buatannya orang Belanda? Kosakata itu dapat meresap ke tengah masyarakat, karena memang bangunan buatan orang Belanda dikenal memiliki daya tahan yang kuat sehingga mampu kokoh berdiri sampai puluhan atau bahkan ratusan tahun lamanya.

READ  Peradaban Gunung Krakatau Hingga Tsunami Selat Sunda

Yuh, kita loncat-loncatan lagi di brug? Moal wani uing ayeuna mah. 😅

Leave A Reply

Your email address will not be published.