Pena Khatulistiwa
Menggores Sejarah Peradapan

Indonesia Berduka, Ulama Jawa Timur Tutup Usia

 

Penakhatulistiwa.com, Surabaya – Bertepatan tanggal 3 Muharram 1440 H, setelah umat Islam merayakan Tahun Baru Islam. Umat Islam Indonesia berduka. Lantaran KH Muhammad Ma’shum, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Al Ishlah Bondowoso, meninggal dunia di rumah sakit Siloam Surabaya hari ini, Kamis (13/9/18).

Related Posts
1 of 471

Kabar duka ini dikabarkan oleh Ketua Umum Kadin Jawa Timur, La Nyalla Mahmud Mattalitti.

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, telah berpulang kerahmatullah guru kita semua Kyai Haji Ma’shum Bondowoso di RS Siloam siang ini. Rohimahullah rahmatal-abror, Hari ini Indonesia berduka, hari ini umat Islam berduka, hari ini kita ditinggal pergi KH. Muhammad Ma’shum, pengabdianmu sangatlah besar menegakan kalimah Allah,” kata La Nyalla lewat pesan WhatsApp kepada Media Center LNM, Kamis (13/9/2018) sore ini.

Sebagai pemimpin yang taat pada ulama, La Nyalla sangat merasa kehilangan yang sangat mendalam dan masih membekas nasehat-nasehat dari Ulama asal Bondowoso tersebut.

“Ya Allah… Tempatkanlah beliau dalam renungan rahmat Mu, Sinarilah makam beliau dengan Maghfirah Mu, Terimalah amal dan pengabdian beliau, berkahilah ilmu yang beliau ajarkan dengan Fadhal Mu,” ucapan Doa La Nyalla terhadap KH. Muhammad Ma’shum.

Sekadar diketahui, Sebelumnya La Nyalla bersama Gubernur Jatim terpilih Khofifah Indar Parawansa menjenguk KH. Muhammad Ma’shum, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Al Ishlah Bondowoso, di rumah sakit Siloam Surabaya, Sabtu (08/09/2018).

“KH. Muhammad Ma’shum merupakan Pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso. Seorang Ulama, Guru dan ayah ideologis bagi para santri-santrinya. Mari kita do’akan beliau,” ungkap La Nyalla.

Masih lekat dalam ingatan umat Islam ketika Kiyai Ma’shum pendiri Pondok Pesantrean Al-Ishlah Bondowoso Jawa Timur ini menjadi bahan bakar dalam rangkaian Aksi Bela Islam sejak pertama sampai terakhir.

Di akhir-akhir Aksi Bela Islam, ketika beberapa ulama mulai ditanggap dengan tuduhan yang tak bisa dibuktikan, Kiyai Ma’shum tetap berangkat menemui umat Islam di Jakarta.

Kalimat Kiyai Ma’shum kuat. Singkat, padat, dan menghunjam. Siapa yang mendengarnya dengan iman, tak mudah untuk melupakan nasihat sang Kiyai. Saat-saat terakhir Aksi Bela Islam itu, Kiyai Ma’shum sudah menderita sakit parah. Bukan sakit biasa, tetapi kanker stadium empat. Jika orang lain, pasti memilih tidur sambil menunggu Izrail.

Tapi, Kiyai Ma’shum bukanlah orang kebanyakan. Beliau berangkat dari Bondowoso, sengaja menghadiri Aksi Bela Islam. Katanya tak mudah dilupa. (Daripada mati di atas kasur, lebih baik syahid di medan tempur). ”Selamat jalan Kyai, semoga Khusnul Khatimah, Amin,” tutupnya. (Red)

READ  Bersama TNI, Polsek Krembangan Kawal Pengamanan Setiap TPS

Leave A Reply

Your email address will not be published.