Pena Khatulistiwa
Menggores Sejarah Peradapan

Gus Sholah Prihatin Melihat Kegaduhan Antar Pendukung Pilpres 2019

 

Penakhatulistiwa.com, JOMBANG – Sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, KH. Sholahuddin Wahid sangat prihatin terkait fenomena saling menjatuhkan di media sosial oleh para pendukung calon presiden (Capres) dan calon wakil presiden (Cawapres) menjelang pesta demokrasi tahun 2019 mendatang.

Related Posts
1 of 522

Hal ini terkait maraknya terjadi di kalangan masyarakat saling menyalahkan. Media masa penuh dengan kutipan ucapan dari capres dan cawapres atau tim kampanye yang menimbulkan kegaduhan. Seperti kata tampang Boyolali, politik gendruwo, politikus sontoloyo, tempe setipis ATM dan budeg. Dalam bahasa mudahnya, kampanye saat ini hanya ramai sensasi dan kering substansi.

“Sangat disayangkan, suasana Pilpres 2019 sudah dimulai ditanggapi dengan kata-kata kasar dan negatif, banyak yang menghujat, sehingga medsos semakin gaduh,” ujarnya dalam seminar nasional pemilu damai di Pesantren Tebuireng, Selasa (12/12) kemarin.

Dikatakannya, akibat perang kata-kata dan saling melakukan pembenaran di antara pendukung capres, debat kusir terus terjadi, kedua kubu membela matian-matian jagoannya dan menyerang balik kubu lainnya.

Disampaikan, para pendukung capres menafsirkan masing-masing ucapan capres sesuai dari posisi, bila pro pasti membela dan kalau kontra pasti menyalahkan, keduanya sama-sama kasar. Dan parahnya, hingga kini belum ada tanda-tanda masalah ini akan selesai, walaupun sudah berjalan bertahun tahun lamanya.

“Cara menghentikan kegaduhan ini, kita harus memaparkan dan menyebarluaskan argumen secara logis dengan dibarengi data-data yang akurat dan terpercaya serta sesuai dengan fakta,” jelas adik dari Gus Dur ini.

Pria yang biasa disapa Gus Solah ini menjelaskan tindakan memaparkan argumen logis ini tidak langsung dapat menghentikan masalah ujaran kebencian ini. Karena orang yang sudah terpengaruh kebencian sangat sulit berpikir dari perspektif berbeda. Namun setidaknya memberikan alternatif berpikir dan solusi.

Menurutnya, terkadang orang yang diberikan fakta malah bertambah radikal. Mereka selalu menganggap kebenaran di sisinya dan selalu mencari lubang kesalahan di sisi lawan. Biasanya mereka menunggu pihak lawan mengeluarkan ucapan kontra, atau terpeleset lidah. Dan setelah itu menyebarkan masalah ini lebih masif.

“Oleh karenanya, kalau kita melihat atau membaca kabar hoaks murahan tidak usah ikut menyebarkan. Selama ini bila ada orang yang ketahuan menyebarkan hoaks malah dibully dan dijelek-jelekkan terus. Kata-kata kasar seperti dasar goblok, rasain loe, mampus loe, terus disebarkan. Yang menyebarkan tersebut merasa bangga, puas dan menang. Padahal Ini hanya membuat jurang kebencian kepada sesama manusia semakin lebar,” ungkapnya.

Masalah ini, menurut Gus Solah bila tidak segera diatasi malah membuat bangsa Indonesia terkotak-kotak. Cara mengatasi masalah ini selain memaparkan argumen logis juga diawali dengan tidak  terpancing menghakimi dengan perkataan kotor juga. Perkataan kotor dibalas kotor maka membuat semakin kotor.

“Kalau mau mengklarifikasi kabar hoaks atau pesan negatif di media sosial jangan tergesa-gesa tapi tenang kan hati dan pikiran dulu. Lalu baru mengklarifikasi kabar tersebut dengan bahasa positif tidak menghina, merendahkan, menghargai pendapat orang lain dan tidak menprovokasi. Karena hal tersebut akan menghasilkan aura positif, ini sikap orang bijaksana,” tandas cucu KH Hasyim Asy’ari ini. (Red/WJ)

READ  Debat Pilpres Kedua, Jubir TKN: Jokowi Hajar Prabowo 6 : 0

Leave A Reply

Your email address will not be published.