Pena Khatulistiwa
Menggores Sejarah Peradapan

Perjuangan Laskar Depo SIDOTOPO (Bag.3)

 

Penakhatulistiwa.com – Pada 29 Oktober 1945, ketika laskar kereta api depo Sidotopo sampai di lokasi sekitar RRI Simpang, baku tembak telah terjadi, dan kondisi medan perlawanan arek2 Suroboyo sudah terjepit dan tentara Sekutu/ Inggris lebih menguasai medan sekitar RRI.

Related Posts
1 of 482

Walaupun sudah terdesak, para pemuda arek2 suroboyo yang bersenjatakan ala kadarnya tetap pantang menyerah dan saling berjibaku untuk menyerang sehingga memakan banyak korban bagi para pemuda arek2 Suroboyo. Namun dengan kehadiran laskar kereta api depo sidotopo yang bersenjata lengkap dan tepat waktunya menjadikan kondisi medan pertempuran menjadi berubah.

Laskar kereta api depo Sidotopo yang bersenjata lengkap berhasil mengambil alih medan pertempuran menggantikan kedudukan laskar-laskar terdahulu yang sudah terjepit. Tentara Sekutu/Inggris yang sejak semula sudah menguasai medan pertempuran pada akhirnya oleh laskar kereta api depo sidotopo berhasil didesak mundur, dipatahkan, dan dikalahkan. Gedung RRI bisa dikuasai, senjata tentara sekutu dilucuti dibagikan pada laskar lain yang membutuhkan. Tentara inggris/ sekutu ditawan didalam gedung RRI.

Dan diluar sepengetahuan laskar kereta api depo sidotopo, dan entah dari mana datangnya, setelah tentara Sekutu/ Ingris ditawan dalam gedung RRI, masa pemuda arek2 suroboyo tiba2 sudah mengepung RRI dan gedung RRI tiba-tiba terbakar.

Dengan sebenarnya Laskar Kereta Api depo sidotopo sependapat dengan Laskar Laskar lain bahwa tentara Inggris/Sekutu harus dibinasakan atau secepatnya didesak untuk keluar dari Surabaya. Namun lagi-lagi niat itu terganjal oleh perintah atasan, dan kali ini datangnya langsung dari presiden Sukarno yang menginstruksikan penghentian tembak menembak.

Para Laskar arek-arek Suroboyo termasuk Laskar Kereta Api depo sidotopo yang sudah berhasil menguasai kota Surabaya dan menawan melumpuhkan tentara Inggris/ Sekutu secara total dengan sangat terpaksa harus menghentikan tembak menembak demi mematuhi perintah atasan.

Pada 30 Oktober sore, masa arek2 suroboyo berkerumun di lapangan segitiga jembatan merah depan gedung internatio menuntut agar tentara Inggris/ sekutu yang berada di gedung Internatio segera dipindahkan ke Tanjung perak.

Suara tembakan secara sporadis entah dari mana asalnya kadang terjadi. Laskar kereta api depo sidotopo saat itu baru saja datang. Namun Laskar Kereta Api Depo Sidotopo yang pada saat itu berada di sebelah utara lapangan segitiga jembatan merah lebih bersifat pasif. Disamping mematuhi komitmen gencatan senjata, laskar kereta api depo sidotopo tidak ingin terjadi banyak korban pemuda yang berjibaku, dan menjadi sasaran empuk akibat kontak senjata secara terbuka, sebab kedudukan tentara Inggris/ Sekutu yang berada diatas gedung lebih menguntungkan dibanding dengan masa para pemuda yang bergerombol di lapangansegitiga tanpa ada koordinasi yang baik. Situasi tiba2 cepat berubah. Menjelang matahari hampir terbenam, rentetan senjata secara gencar ditembakkan dari atas gedung internatio, dan masa yang berkerumun di lapangan segitiga menjadi buyar tak terkendali. Sebagian besar masyarakat yang berkerumun dilapangan segitiga saling berlari menyelamatkan diri, sehingga kondisi lapangan segitiga menjadi agak lengang.

Sebagian kecil pemuda masih bertahan dengan senjata ala kadarnya tanpa ada koordinasi yang baik sehingga rawan menjadi sasaran tembak. Korban dari pihak pemuda mulai berjatuhan. Disaat inilah laskar kereta api depo sidotopo yang semula pasif menjadi bangkit untuk berbuat dengan alasan tentara Inggris/sekutu menembak terlebih dahulu.

Dari sebelah utara, laskar kereta api depo Sidotopo yang personilnya adalah mantan anggota KNIL, dan pada saat itu berseragam hitam-hitam mulai mengadakan perlawanan, membalas menyerang gedung internatio. Kontak tembak antara keduanya terjadi dan menjadi lebih seru, sebab ternyata tentara Inggris juga mengadakan perlawanan.

Hari semakin gelap, dan musuh yang berada diatas gedung internatio tidak tampak. Yang terlihat hanya nyala api lintasan-lintasan arah peluru dari rentetan senjata yang ditembakan dari atas kemudian dibalas oleh rentetan tembakan dari bawah. Ternyata semakim malam dan dalam kondisi semakin gelap rentetan tembakan dari kedua pihak semakin gencar. Dan selama itu kedudukan tentara inggris/sekutu yang bearada digedung internatio dan lakar kereta api depo Sidotopo yang berada dibawah tetap stagnan.

Laskar kereta api depo sidotopo belum bisa memperkirakan jumlah kekuatan lawan yang berada di gedung internatio. Laskar kereta api depo sidotopo untuk sementara memilih bertahan dan membalas serangan ditempat sebab di depan dan di tengah alun-alun masih terdapat beberapa pemuda yang berjibaku menyerang dengan tanpa ada koordinasi yang baik sehingga menyulitkan bagi laskar kereta api depo sidotopo untuk bergerak maju.

(PPDSM)

READ  Kadin Jatim ikut Tingkatkan Stabilisasi Harga Pangan Dalam Negeri

Leave A Reply

Your email address will not be published.